
REMAJA. Industri game biasanya dipenuhi cerita tentang kreativitas, teknologi mutakhir, dan semangat komunitas. Namun, sesekali, drama internal perusahaan bisa mencuat ke permukaan dan menjadi pembahasan hangat di berbagai media. Inilah yang kini menimpa Krafton, perusahaan di balik PUBG dan sejumlah judul besar lainnya. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut tengah berada dalam pusaran kontroversi setelah muncul tuduhan bahwa sang CEO, Kim Chang-han, menggunakan ChatGPT untuk mencari cara agar terbebas dari pembayaran earn-out bernilai ratusan juta dolar kepada mantan pendiri studio Unknown Worlds, pengembang Subnautica 2.
Tuduhan ini terdengar begitu absurd sekaligus menarik. Bagaimana mungkin chatbot berbasis AI yang dikenal sebagai alat bantu produktivitas justru dijadikan “penasihat” dalam urusan bisnis bernilai fantastis? Namun inilah yang dicatat dalam berkas praperadilan yang diajukan oleh pihak mantan pendiri, membuat kasus ini semakin ramai diperbincangkan.
Earn-Out Bonus atau Bom Waktu?
Untuk memahami akar masalahnya, kita perlu menelusuri apa yang dimaksud dengan earn-out. Dalam proses akuisisi perusahaan, earn-out merupakan bentuk bonus yang diberikan kepada pendiri studio apabila target tertentu tercapai setelah perusahaan tersebut berada di bawah induk baru. Mekanisme ini sering digunakan untuk memastikan bahwa pendiri tetap ikut membangun keberhasilan produk yang mereka rintis.
Dalam kasus Unknown Worlds, tiga pendirinya Ted Gill, Charlie Cleveland, dan Max McGuire disebut berhak atas bonus dengan nilai luar biasa besar, sekitar US$ 250 juta. Nominal ini bukan angka kecil, bahkan untuk perusahaan besar seperti Krafton.
Masalah mulai muncul ketika peluncuran Subnautica 2 mengalami pengunduran hingga tahun 2026. Pihak mantan pendiri menuduh bahwa penundaan ini bukan karena alasan produksi semata, tetapi disengaja agar durasi earn-out dapat melewati periode yang menjadi syarat pencairan bonus. Dengan kata lain, mereka menduga bahwa Krafton berusaha agar bonus tersebut hangus dengan sendirinya.
ChatGPT Dijadikan “Penasehat Rahasia”?
Bagian paling mengejutkan dalam dokumen praperadilan adalah klaim bahwa CEO Krafton meminta bantuan ChatGPT untuk memikirkan cara menghindari pembayaran earn-out tersebut. Dalam berkas gugatan disebutkan bahwa Kim Chang-han menuliskan pertanyaan kepada chatbot AI mengenai bagaimana perusahaan dapat “menghapus atau membatalkan” kewajiban earn-out.
Ironisnya, menurut para pendiri, ChatGPT justru memberikan jawaban yang bukan mereka harapkan. AI tersebut malah disebut menyatakan bahwa membatalkan earn-out akan sangat sulit secara hukum. Namun, alih-alih memperjelas situasi, pihak Krafton dikatakan tidak menyediakan rekaman percakapan tersebut ketika diminta sebagai bukti, dengan alasan bahwa “percakapan itu sudah tidak tersedia”. Hal ini tentu semakin memicu kecurigaan.
Keberadaan AI dalam situasi seperti ini membuat kasusnya terasa seperti drama teknologi modern antara kecerdasan buatan dan upaya perusahaan untuk menyelamatkan finansialnya.
Project X, Strategi Misterius di Balik Layar
Selain isu ChatGPT, dokumen gugatan juga menyinggung sebuah rencana internal bernama “Project X”. Rencana ini disebut sebagai salah satu strategi yang dipertimbangkan Krafton untuk menangani konflik earn-out mulai dari negosiasi ulang nilai bonus hingga kemungkinan pengambilalihan penuh terhadap Unknown Worlds dengan cara yang lebih agresif.
Obrolan internal antara Kim Chang-han dan Richard Yoon, salah satu eksekutif perusahaan, juga ikut diungkap. Yoon disebut menyarankan bahwa akuisisi total studio mungkin menjadi solusi yang lebih efektif dalam mengakhiri persoalan earn-out. Walaupun isi lengkap diskusi tidak dibuka untuk publik, fakta bahwa percakapan internal ini dibawa ke ruang pengadilan menunjukkan bahwa masalah ini semakin serius dan kompleks.
Bantahan Resmi dari Krafton
Di tengah panasnya pemberitaan, Krafton memberikan tanggapan. Mereka membantah tuduhan bahwa CEO menggunakan ChatGPT untuk mengakali kewajiban earn-out. Menurut perusahaan, tuduhan tersebut merupakan upaya dari pihak mantan pendiri untuk mengalihkan perhatian dari masalah lain yang sebenarnya terjadi. Selain itu, mereka menuturkan bahwa konflik bukan semata soal bonus, tetapi terkait perbedaan visi dan menurunnya keterlibatan pendiri dalam pengembangan Subnautica 2.
Krafton juga menekankan bahwa perusahaan saat ini memang sedang mengembangkan banyak proyek berbasis AI sebagai bagian strategi jangka panjang, tetapi hal tersebut tidak berarti mereka menggunakan teknologi tersebut untuk keputusan bisnis yang tidak etis.
Perspektif Publik Etika, Transparansi, dan Masa Depan AI dalam Bisnis
Kontroversi ini langsung memicu diskusi hangat di kalangan pengamat industri. Banyak yang mempertanyakan etika penggunaan AI dalam keputusan bisnis, terutama terkait kewajiban finansial dan hubungan kontraktual. Menggunakan AI untuk mencari jalan menghindari kompensasi kepada pendiri studio dianggap sebagai praktik yang perlu ditelaah lebih jauh dari sisi moral dan profesionalitas.
Selain itu, muncul pertanyaan mengenai transparansi penggunaan AI di dalam perusahaan besar. Jika AI digunakan dalam ranah yang melibatkan hak finansial atau kontrak legal, apakah perusahaan wajib melaporkan penggunaannya kepada pihak terkait?
Kasus ini mungkin menjadi preseden penting. Industri game selama ini dikenal inovatif dalam menggunakan AI untuk membuat dunia virtual dan gameplay yang canggih. Namun kini, AI mulai masuk ke ruang rapat eksekutif sebuah fenomena baru yang perlu dikaji lebih dalam dampaknya.
Konflik yang Masih Jauh dari Kata Selesai
Drama antara Krafton dan para mantan pendiri Unknown Worlds belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai. Tuduhan yang melibatkan ChatGPT membuat kasus ini mendapat sorotan lebih luas karena menyentuh dua hal sensitive, uang dalam jumlah fantastis dan teknologi AI yang kini menjadi sorotan global.
Akankah pengadilan menemukan bukti kuat bahwa AI memang digunakan untuk tujuan tersebut? Ataukah kasus ini akan berakhir sebagai salah satu salah paham terbesar dalam industri game?
Satu hal pasti, industri kini sedang mengamati dengan seksama bagaimana konflik ini berkembang, karena hasilnya bisa mempengaruhi bagaimana perusahaan lain menggunakan AI dalam ranah bisnis ke depannya.